Rabu, 23 November 2016

PARIWISATA GARUT SELATAN GUNUNG NAGARA



SITUS GUNUNG NAGARA     
     
      Gunung Nagara merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan antara Kecamatan Cisompet dan Kecamatan Pamengpeuk Kabupaten Garut. Gunung Nagara tepatnya membentangi beberapa desa disebelah timurnya adalah Desa Depok Kecamatan Cisompet, di sebelah baratnya adalah Desa Bojong Kecamatan Pamengpeuk, disebelah utaranya adalah Desa Sukanagara Kecamatan Cisompet,disebelah selatannya adalah Desa Paas Kecamatan Pamengpeuk.Situs Gunung Nagara tediri dari tiga kompleks pemakaman, kompleks kesatu terdiri dari 25 makam, kompleks kedua terdiri dari dua makam dan Kompleks ketiga terdiri dari 1 makam,  tentang pemakaman tersebut tidak ada yang tahu dengan pasti/tepat siapa siapa saja yang di semayamkan disana, yang jelas semua yang dimakamkan disana adalah makam jaman  dari kerajaan Salaka Nagara, kerajaan Taruma Nagara  dan  Kerajaan Sunda dan Pajajaran,hal ini dapat dilihat dari tulisan batu nisan salah satu makam.
  
      Situs Gunung Nagara terletak pada ketinggian sekitar 350 mdpl, dan areal situs ini sekitar 30 ha, menjadikannya sebagai kompleks pemakaman raja-raja di tatar sunda. Menurut legenda dan cerita para leluhur, Situs Gunung Nagara merupakan tempat pertemuan ritual peristirahatan raja-raja yang telah melepaskan kedudukannya, sebagai salah satu penghormatan dari raja-raja yang masih bertahta, di Situs Gunung Nagara dulunya dibangun sebuah komplek padepokan  dan diberinya Padepokan Nagara( sekarang Padepokan Gunung Nagara).semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Dan ada juga yang mengatakan bahwa situs ini merupakan tempat persemedian terakhir menuju sang pencinta bagi raja-raja Sunda atau para-raja yang ada di dalam wilayah kemaharajaan Sunda Nusantara. Sekarang Situs ini dipakai tempat berziarah dan ada juga sekelompok penganut agama asli Sunda (Sunda Wiwitan) untuk melakukan upacara. Berdasarkan kepercayaan pada jaman Sunda kuno tempat ini memiliki tempat "kabuyutan" (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) yang di apit oleh dua sungai yaitu dari sebelah timur: Sungai Cikaso (Ci artinya sinar dan kata “kaso” dari kata ngaso atau istirahat) yang artinya  tempat peristirahatan.di sebelah barat:Sungai Cipalebuh( Ci artinya Sinar dan palebuh artinya pelebur) yang artinya tempat melebur dosa. Kedua sungai ini akhirnya bertemu  menjadi satu sungai, posisi situs ini ada di tengah tengah  aliran kedua sungai tersebut, konon pertemuan  air sungai Cikaso dan Cipalebuh apa bila di pakai bermandi membersihkan badan dipercaya  untuk melebur  segala sesuatu  yang dianggap kotor  namun bagi raja-raja adalah dipercaya agar dosa dosa diampuni oleh yang maha kuasa.
Situs Gunung Nagara adalah dulunya dijadikan tempat mensucikan diri agar diampuni semua dosa oleh SangHyang Widi.
  
     Diduga situs gunung Nagara adalah sebuah bangunan sesungguhnya bukanlah gunung, melainkan bangunan berbentuk mirip dengan “Waruga” yaitu pembangunan kuburan kuburan di daerah manado, minahasa, toraja daerah daerah disulawesi, hal ini dapat dilihat dari sisi-sisi tebing  pemakaman yang mirip bangunan dari batu yang disusun rapi, hal ini bisa dilihat jelas dari sebelah timur Gunung Nagara.karena sudah ribuan tahun maka terlihat seperti Gunung karena tertimbun abu Vulkanik, sehingga terlihat seperti gunung yang sudah ditumbuhi pepohonan. Di dalam situs Gunung Nagara dipercaya memiliki ruang didalamnya, yang kini telah tertimbun tanah. Dalam situs Gunung Nagara diperaya banyak orang bahwa ada harta yang tersimpan didalam nya, hal ini  dibuktikan ada beberapa orang yang tak bertanggung jawab menggali-gali tanah di sekitar area pemakaman.
Kecurigaan bahwa di dalam situs ini ada banyak tersimpan harta berawal dari bentuk Gunung Nagara yang hampir mirip sebuah bangunan empat persegi panjang dan menjolor dari utara keselatan. Namun disayangkan sampai saat ini belum ada pihak-pihak yang meneliti lebih jauh,mudah-mudahan setelah pemecahan kabupaten Garut menjadi dua kabupaten, pemerintah garut selatan nanti dapat memperhatikan situs Gunung Nagara yang memiliki nilai sejarah ini.


KEINDAHAN GUNUNG NAGARA
  
   Dalam peradaban tatar Sunda, Kabupaten Garut pada umumnya, khususnya wilayah Garut selatan kurang begitu diperhatikan. Terlebih jika dikaitkan dengan kerajaan atau dengan isu penyebaran ajaran Islam. Sebab dipungkiri ataupun tidak, di wilayah Kabupaten Garut tidak pernah berdiri kerajaan besar sekalipun GaluhPakuan, Sumedang Larang, Pajajaran, Kasepuhan dan Banten. Akan tetapi,realitas tersebut tidak menutup kemuungkinan jika di wilayah Garut pernah berdiri kerjaan kecil yang dijadikan basis penyebaran agama islam di wilayah Garut selatan yang terjadi sekira awal abad 13.
     Berbicara tentang gunung, terkadang kita hanya terpokus gunung itu hanya lereng yang di lapisi pepohonan yang hijau dan berbagai satwa liar di dalamnya. Sebenarnya Gunung Nagara ini mempunyai nilai mistiknya. Gunung tersebut bisa kita jadikan sebagai tempat mendaki, khususnya pendaki pemula.
     Selama mendaki, kita akan disuguhkan dengan keindahan pepohonan yang masih  hijau, udara yang segar, air terjuan yang mengalir disana serta makam-makam sejarah. Gunung ini juga bisa dijadikan sebagai sumber sejarah bagi mereka yang ingin mengetahui khususnya cerita Kian Santang.
    Di tempat tersebut masih banyak terdapat pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru,binong serta masih banyak jenis tumbuhan lainnya yang mungkin secara ilmiah belum dikenal, dan belum diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia.
     Kekayaan fauna juga dimiliki hutan Gunung Nagara.Kalau kebetulan, kita akan menemukan burung rangkong(Buceros rhinoceros) yang sedang asyik berduaan bersama pasangannya di atas pohon yang cukup tinggi.Tubuhnya yang cukup besar diperindah dengan mahkota oranye di atas kepalanya. Bagi yang pertama menemukan burung ini mungkin akan merasa aneh, sebab ketika burung tersebut akan terbang, biasanya memberi aba-aba dengan suara “gak” yang keras mirip suara monyet. Lantas, ketika sudah tinggal landas, kepakan sayapnya mengeluarkan suara yang dramatis.
     Selain burung Rangkong, masih terdapat hewan langka lainnya semisal kambing hutan, landak, kucing hutan, macan kumbang, walik, surili, dan beragam jenis kupu-kupu.
     Secara geografis, ia terletak di wilayah Desa Depok-Cisompet-Garut. Menuju daerah tersebut relatif gampang, dari terminal Garut kita hanya tinggal naik elf  jurusan Pamengpeuk-Garut dengan membayar ongkos RP10.000,00 atau jika berangkat dari Bandung, kita tinggal naik bus tiga perempat jurusan Bandung-Pameungpeuk dengan membayar ongkos Rp 15.000,00.
     Kita minta diturunkan di Kampung Pagelaran.Dari kampung tersebut, bukit gunung Nagara sudah tampak begitu jelas, namun sekilas tidak ada jalan menuju bukit tersebut, yang terlihat hanyalah tebing cadas yang menurut pemikiran normal tidak mungkin untuk didaki tanpa peralatan panjat.
     Dari Kampung Pagelaran, kita tinggal berjalan kaki menuju Kampung Depok dengan jarak sekira satu kilometer. Menurut hikayat, nama Depok dikaitkan dengan padepokan. Artinya perkampungan tersebut pada awalnya merupakan padepokan tempat peristirahatan para gegeden.Sebenarnya, menurut Ki Ecep (sesepuh kampung), pada era enam puluhan, kampung Depok masih merupakan perkampungan dengan tradisi yang sama dengan Baduy. Akan tetapi, setelah kampung tersebut dibumihanguskan gerombolan DI/TII, terjadi perubahan cukup signifikan. Sekarang tidak akan lagi terlihat rumah-rumah panggung berjajar menghadap kiblat.
     Bagi mereka yang suka akan keindahan alam alangkah baiknya terlebih dahulu mengunjungi Batu Opak yang berada kurang lebih setengah kilometer ke arah hulu. Di tempat tersebut kita akan menyaksikan fenomena geologis, yakni batu yang berjajar secara sinergis dari arah bukit menuju sungai dengan bentuk mirip seperti opak. Penduduk sekitar menghubungkan fenomena geologis tersebut dengan legenda Sangkuriang.Yaitu, ketika Sangkuriang akan menikah, Embah Rajadilewa (penguasa daerah selatan) mau membantu nyambungan. Akan tetapi, baru saja mereka sampai di Leuwi Tamiang, dari arah timur terlihat fajar, sehingga mereka menyimpan barang bawaannya di tempat tersebut, hingga ia berubah menjadi batu.
     Bagi mereka yang baru mengunjungi tempat ini, di kampung Depok inilah bisa menemui Ki Anang (kuncen)untuk minta diantar. Dari Depok, kita melanjutkan perjalanan menuju Cidadap dengan jarak kurang lebihsetengah kilometer, perjalanan ini melewati pesawahan yang tidak terlalu luas. Di Cidadap inilah terdapat mata air yang dikeramatkan. Secara nalar, air dapat menyegarkan badan. Perjalanan baru akan mendapat tantangan manakala kita mulai merayap,mendaki jalanan setapak yang cukup terjal (Cidadap-Gunung Nagara). Terkadang kita harus melewati jalanan yang kemiringannya mencapai 75 derajat. Dari Cidadap, kita tidak akan menjumpai jalanan yang datar, kanan kiri jalan masih terdapat banyak pohon besar, sehingga walaupun kelelahan kita bisa beristirahat cukup santai. Perjalanan ini jika ditempuh dengan santai paling memakan waktu sekira setengah jam.
     Sesampainya di puncak Gunung Nagara, secara langsung kita telah sampai di kompleks pemakaman. Tempat itu dikenal dengan pusaran ka hiji (kompleks pertama) yang di tempat ini terdapat dua puluh enam kuburan. Kuburan-kuburan tersebut relatif besar-besar. Setiap kuburan dihiasi batu “sakoja” dan batu nisan. Dinamaisakoja, karena batu tersebut berasal dari sungai Cikaso diambil dengan menggunakan koja (kantong).
     Kalau kita perhatikan secara seksama, komplek pekuburan tersebut tersusun secara rapi membentuk sebuah struktur organigram. Lima belas meter ke arah utara, terdapat kubur an yang dikenal dengan pusarankan dua. Di tempat ini hanya terdapat dua kuburan. Sekira dua kilometer ke arah utara, terdapat kuburan yang dikenal dengan pusaran katilu yang hanya terdiri dari dua kuburan. Konon kabarnya, kuburan ini merupakan kuburan Embah Ageung Nagara dan patihnya.
     Menurut Mantan Kepala Desa Depok, Abdul Rasyid, tiga pusaran tersebut melambangkan Al-Quran yang terdiri dari 30 juz. Pusaran pertama yang terdiri dari 26 kuburan melambangkan bagian Mufassal (surat-surat) pendek, pusaran kedua melambangkan al-mi’un dan pusaran ketiga melambangkan sab’ul matsani. Oleh sebab itu, tidak diperbolehkan menambah kuburan.
     Lebih lanjut,ia mengatakan kalau pada pusaran pertama itu terdiri dari para pengikut/pengawal yang salah satu di antaranya perempuan, pusaran kedua merupakan kuburan panglima dan pusaran ketiga merupakan kuburan raja dan patih.Sebenarnya, jika kita mau melanjutkan perjalanan ke arah utara, kita akan menemukan sebuah kuburan yangterpisah, konon kabarnya kuburan tersebut merupakan kuburan seorang berbangsa Arab.
   
     Lebih jauh, menurut Abdul Rasyid, sebenarnya situs Gunung Nagara terdiri atas beberapa peninggalan dalam bentuk barang. Namun sayang, naskah aslinya terbakar manakala gorombolan (DI/TII) menyerang Kampung Depok, sedangkan beberapa naskah lainnya yang tersisa dan barang-barang peninggalan sudah menjadi milik orang Tasik. Barang-barang yang masih ada, terpencar di perseorangan.
     Bagi para peziarah yang terbiasa melakukan semedi, disyaratkan baginya untuk melakukan ritual mandi di Sumur Tujuh. Sumur tersebut berada sekira setengah kilometer ke arah lembah. Sumur itu berada tepat didekat sungai kecil. Sebenarnya, sumur itu merupakan kubangan-kubangan kecil akibat dari resapan air.
     Legenda Kian Santang Menurut sebagian besar masyarakat Depok, Situs Gunung Nagara erat kaitannya dengan penyebaran Islam di wilayah Garut Selatan yang disebarkan atas jasa Prabu Kian Santang. Malahan diklaim kalau sesungguhnya daerah Leuweung Sancang merupakan tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi (raja pajajaran yang terkenal), sehingga begitu melegenda kalau di leuweung tersebut terdapat harimau jadi-jadian, bekas pasukan Prabu Siliwangi. Sementara itu, walaupun terdapat daerah yang diklaim sebagai tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi, penduduk Garut selatan meyakini bahwa kuburan asli Prabu Kian Santang itu berada di kompleks pemakaman Gunung Nagara.
     Menurut mereka, keberadaan kuburan lainnya hanya merupakan tempat persinggahan Prabu Kian Santang.Misalnya saja pemakaman Godog di daerah Suci-Karangpawitan-Garut. Mereka menyatakan kalau sesungguhnya di tempat tersebut Prabu Kian Santang hanya tinggal berkontemplasi merenungi kekeliruannya dalam melakukan sunat terhadap orang yang masuk Islam. Oleh sebab itu, tempat tersebut dinamakan “Godog” yang mengandung arti tempat penyucian jiwa atau dalam istilah pewayangan “Kawah Candradimuka”, dan karenanya pula tempat ketika ia turun dari daerah tersebut dinamakan “Suci”, yang berarti setelah melakukan kontemplasi ia kembali pada kesucian yang kemudian melanjutkan perjalanan menuju Garut Selatan.

2 komentar: